Senin, 13 Maret 2017

Inti dari Proses Pengembangan Diri Manusia

Pengembangan diri
Adalah menemukan jawaban dan mulai mengubah kecenderungan menyakitkan diri sendiri sebagai inti dari pengembangan diri. Membangun keintiman dengan yang lain dengan menunjukan empati, mungkin merupakan hal bermakna serta pengalaman yang berharga.[1] 

Prinsip utama dalam pengembangan diri adalah mengembangan pikiran positif. Kita semua ditakdirkan dan diberikan ukuran dan wajah tertentu, yang bisa dikembangkan—diperindah hanyalah bagian tertentu yang jelas memiliki keterbatasan—namun jika yang terlebih dahulu untuk dikembangkan adalah pikiran. Tentunya segala sesuatu yang dikembangkan akan didasari oleh perkembangan pikiran yang benar. [2]

Jika pengembangan yang dilakukan hanya terfokus pada hal yang bersifat fisik semata tidak ubahnya seperti Anda membeli mobil baru tetapi kosong bensinnya. Jelas mobil tersebut hanyalah tumpukan besi-kaleng mengkilap tetapi tidak memberikan apa, kecuali keindahan bentuk saja. Bisa jadi hanya dipisah-pisahkan bagian-bagianya lalu dijual satuan.

Inilah Kekuatan Manusia Yang Tidak Boleh Diabaikan

Kekuatan manusia dalam bertahan hidup
Dua nelayan asal Myanmar selamat setelah 25 hari terkepung di laut di daerah Selat Torres. Australia. Kapal yang digunakan untuk memancing kandas dan selama 25 hari mereka terapung diatas peti es  yang bisa digunakan untuk menyimpan ikan.  Potongan-potongan  ikan yang tersimpan di peti es menjadi makanan mereka. Hujan muson yang mengguyur pesisir Australia beberapa hari itu menjadi penyelamat mereka dari mati kehausan. 

Mereka ditemukan oleh patroli pada hari sabtu, 17 Jaunuari 2009, dalam kondisi dehidrasi berat dan  dan sangat kelalahan. Peristiwa luar biasa itu tidak hanya terjadi sekali. Peristiwa lain, yaitu ada seorang perempuan beusia 18 bulan yang selamat setelah terjebak reruntuhan selama 6 hari pada gempa dayar yang mengguncang Haiti tahun 2010. (kisah tersebut dikutip dari buku yang ditulis oleh Wiliam Tanuwijaya yang berjudul, Kata-Kata Motivasi Berdosis Tinggi)

Jumat, 10 Maret 2017

Hati-Hatilah Dengan Siapa Anda Menghabiskan Waktu

Keberhasilanmu selalu saja ditentukan oleh siapa teman dekatmu

"Kegagalan atau keberhasilan Anda saat ini, erat kaitannya dengan meraka, entah saat sekolah, kerja atau duduk bersantai. Merekalah yang banyak memberi warna pada alam pikiran Anda secara disengaja maupun tidak.Tubagus Salim (Berpikir Besar & Berani Sukses)



Terpengaruh secara tidak sengaja adalah sebuah ungkapan yang saya pilih untuk bagaimana menggambarkan pengaruh yang diperoleh dari dan dengan siapa kita meluangkan waktu. Tepatnya dengan siapa Anda berbicara, bergaul, dan berdiskusi atau mungkin mencurahkan beban pikiran.

Tentu pernah mendengarkan sebuah pepatah yang cukup mashur, jika kita bergaul dengan penjual minyak wangi maka kita akan kebawa wanginya, jika bergaul dengan pandai besi maka harus siap kena muncatan apinya dan jika bergaul dengan para alim ulama maka akan mendapatkan ilmu.

Peribahasa tersebut sangat relevan dengan apa yang saya bahas pada bagian ini untuk kita kaitkan dengan hal tersebut.

Bahwa orangtua, sanak saudara, kawan atau sahabat adalah meraka yang paling cepat mempengaruhi pikiran anda. Kabar gembiranya, anda akan demikian hebat dan positif jika kawan yang dipilih untuk meluangkan waktu bersama memiliki kehebatan dan pengaruh positif.

Sedangkan kabar buruknya adalah jika ternyata kawan anda memiliki banyak keburukan dan negatif pikirannya, Anda akan terinfeksi tanpa pernah sadar atau merasa telah terinfeksi, padahal diri anda telah menyimpan penyakit yang berbahaya.

Pernahkah Anda bercerita kepada teman karib atau salah satu keluarga, tentang rencana, mimpi besar yang ingin diraih, pekerjaan yang hebat, penghasilan yang melimpah? Jika pernah, apa komentar mereka tentang semua ucapan rencana dan mimpi besar anda itu.

Pernahkah mendengar, sebuah ungkapan entah itu dari siapa saja “hidup itu realistis”. Sebenarnya ungkapan tersebut artinya adalah orang yang bicara itu ingin Anda hidup dalam dunia kerealistisan mereka.

Mereka yang mendengar mimpi dan rencana mungkin saja akan menganggap Anda orang bodoh, ngaur atau konyol, karena tentu saja mereka melihat kondisi Anda saat ini, lalu memberikan banyak pernyataan-pernyataan yang memustahilkan untuk berhasil.

Tahukan Anda apa alasan sebenarnya mengapa mereka melakukan itu seakan tak menginginkan Anda maju? Jawabanya karena jika Anda sukses dan bahagia mereka tidak lagi punya alasan mengapa untuk mewajarkan kegagalan mereka.


Jika sudah bisa mengenali siapa yang bisa kita ajak menghabiskan waktu bersama maka mulailah pilih teman bersama untuk kemajuan hidup dan masa depan anda. Dengan cara begitulah anda akan mendapatkan lipatan-lipatan energi yang tidak terkira hebatnya.

Tiga Hal Yang Membuat Orang Menjadi Bodoh Selamanya

Mengapa orang tetap bodoh dan selalu menjadi bodoh?
Pada edisi diskusi kali ini saya akan memaparkan tentang hal-hal yag menjadi penyebab mengapa orang tetap bodoh dan selalu menjadi bodoh. Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan orang terus-menerus berada dalam lembah kebodohan yang tiada bertepi. 

1.   Pikiran yang tertutup

       Tidak mau membuka pikiran untuk ide-ide yang baru. Ide dari siapa saja, dari mana saja, dan kapan saja. Pikiran yang tertutup menyebabkan kita buntu dan bolak-balik dengan yang itu-itu saja. 

       Bayangkanlah bagaimana pengap, jenuh, basi, dan membosankan dunia yang seperti itu. Orang bisa jadi picik, dangkal, serta fanatik sehingga sudut pandangnya hanya mampu melihat jangka pendek dan miskin. 

       Dengan kata lain, tak pernah mampu punya visi, mimpi atau ide untuk masa depan. Alangkah kasihan hidupnya, bagaikan katak di dalam tempurung.

2.   Malas tapi mau segalanya

       Pada tahun 1945, Jepang dan Jerman hancur lebur dan tinggal puing-puing berserakan. Pada tahun 1945 Indonesia merdeka. 59 tahun kemudian, lihatlah Jepang. Lihatlah Jerman. 

       Bagaimana mereka bisa membangun negaranya di atas puing-puing masa lalu yang kelam dan menjadikan negaranya maju, tetapi lihatlah negara yang kita miliki??? 

       Tuhan memberi kepulauan yang indah permai dan kaya raya alamnya. Tapi apa yang terjadi? Kita cuma mau enaknya saja, dengan kata lain malas. Dan yang paling sedih, kita punya hasrat yang tinggi atau mau segalanya. 

       Berjalanlah di kota Anda, buka mata dan pasang telinga. Mobil mewah, televisi, komputer canggih, handphone dengan segala kemudahan yang ditawarkan. Merekalah yang menciptakan, kita hanya sebagai pemakai—konsumen—yang akan menjadi target dan aset mereka, sehingga kelimpahan dan kemakmuran tetap saja miliki negera yang membuang jauh-jauh pribadi malas.


3.     Iri dan cemburu

       Kalau kita melihat orang lain sukses, kita jadi merasa tidak suka pada mereka. Kalau orang lain lebih pintar, kita jadi menganggap mereka sebagai lawan. Kalau orang lain bisa kaya, kita jadi menganggap mereka sebagai bukan bagian dari kita. 

       Segala kebodohan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan kita, disalahkan pada orang lain. Salahnya USA, China, Yahudi, Singapura, umat yang kafir (agama yang berbeda), ORBA, cukong, non pribumi, kapitalis, komunis ,dan sejuta kambing hitam, cokelat atau putih lainnya. Kita tak berani dan tak mau berkaca. Cobalah berkaca dan lihat wajah Anda di sana. Mungkin Anda tak suka melihat wajahmu yang jelek dan busuk di kaca? Yang jelas kita perlu berkaca demi masa depan. 

      Cobalah hidup tanpa cemas, iri atau cemburu pada orang lain. Jangan beranggapan agamamu paling hebat di dunia dan Tuhanmu paling jago. Itu malah merendahkan diri dan kepercayaan kita sebagai manusia bermutu. Cobalah untuk mengerti dan punya kasih sayang pada sesamamu.

Dengan kita mengamati tiga hal tersebut semoga terjaga dari kebodohan yang membuat tidak berdaya dan bodoh selamanya.

Kamis, 09 Maret 2017

Sudut Pandang yang Dimiliki Membuat Seseorang Mementukan Keputusan Hidup

 
mindset menetukan cara hidup seseorang
Salah satu elemen penting dalam hidup yang berkelimpahan adalah hidup dengan kesesuaian. Ini artinya, Anda melakukan apa pun yang dibutuhkan untuk membawa Anda ke mana pun Anda ingin berada.Randy Gage


Bagaimana cara pandang seseorang dalam menilai uang atau materi, secara langsung atau tidak, akan memengaruhinya seseorang dalam mencari teman sekaligus untuk mencari kekayaan. Orang-orang kaya dan orang yang menjadikannya—musuh kehidupan—orang-orang miskin, keduanya memiliki cara pandang berbeda tentang itu. 

Disadari atau tidak, ternyata banyak persepsi dalam menilai uang atau materi. Dan ternyata setiap orang juga akan dibebaskan untuk berkeyakinan dan memiliki persepsi yang berbeda terhadap materi. Jika ditanya apa yang menyebabkan perbedaan cara berpikir orang dalam menilai sesuatu? 

Banyak sebabnya, seperti perbedaan pengetahuan, pengalaman, teman bergaul, lingkungan, budaya, dan lain sebagainya. Termasuk menilai materi, kaya, miskin sejahtera, gagal, dan sukses. Persepsi orang tentang hal demikian berbeda, hanya saja perlu adanya kesepahaman untuk dapat mencapainya baik secara individu maupun kolektif. 

Sesuatu yang dapat mengantarkan pada kebahagiaan, kemakmuran atau ketenanganlah yang dinamakan kesuksesan, dan memahami gagal pun haruslah diarahkan untuk mencapai kesuksesan. Misalnya, gagal adalah sukses tertunda, gagal akan mengantarkan pada keberhasilan, atau gagal sebagai barometer mencapai sukses. Sehingga amatlah diharapkan orang yang sudah ambruk bisa bangkit, yang berhenti bisa maju lagi atau yang pesimis menjadi optimis.

Saya akan mengutip tulisan dari Robert T. Kyosaki, tentang  bagaimana mengubah pola pikir terhadap uang, mengubah keyakinan lama menjadi keyakinan baru, yang akhirnya bisa menuntun orang bisa menjadi kaya secara materi, tanpa menghilangkan nilai. Ayah miskin saya mengatakan, "Cinta akan uang itu adalah akar dari segala kejahatan." Sedangkan, Ayah kaya saya mengatakan, "Kekurangan uang adalah akar dari segala kejahatan."

Logika sederhana yang banyak dianut oleh umat bahwa mencari kebahagiaan adalah dengan menghindari sengsara. Hal yang terkait dengan kesengsaraan, maka akan dijauhi dan ditinggalkan. Sedangkan untuk hal yang terkait dengan kenikmatan akan kita akan selau dicari dan didekati. 

Ketika yakin bahwa kaya adalah positif dan miskin negatif, maka itu akan menjadi magnet, penarik bagi segala kebahagiaan dan keberuntungan. Hanya saja kenyataannya banyak orang tidak pernah menyusun keyakinannya secara sadar dari lahir sampai mati. 

Dan bila kita tidak menyusun sendiri secara sadar keyakinan yang diperlukan untuk menjadi kaya seperti kita terjajah tanpa sadar oleh kata-kata, "Uang adalah akar dari segala kejahatan", maka tanpa sadar pula kita tidak menjadi kaya karena kita tidak ingin menjadi jahat. 

Pak Tung Desem Waringin, mengajak kita untuk segera susun ulang pola pikir kita tentang kaya dan uang. Bahwa uang kekayaan itu baik. Perhatikanlah pernyataan berikut ini, tentang pertarungan antara keyakinan Lama dan Keyakinan Baru. Lihatlah bagan berikut ini:


Keyakinan Lama
Keyakinan Baru
Uang tidak dibawa mati.

Uang banyak bisa menolong orang yang hampir mati. Betul uang memang tidak dibawa mati, makanya jauh lebih baik meninggalkan warisan daripada tidak meninggalkan apa-apa.
Uang tidak bisa membeli cinta.

Betul uang tidak bisa membeli cinta, apalagi jika tidak punya uang sama sekali.
Kekayaan tidak dapat menyelesaikan masalah.
Betul uang tidak dapat menyelesaikan, tapi dengan uang yang banyak saya bisa menyelesaikan masalah dengan gaya tersendiri.

Dengan membangun pola pikir dan cara pandang demikianlah, kita bisa membangun berbagai macam varian, yang jelas sesuatu yang baik tentunya dapat diterima dengan nalar yang sehat, bukan dalam pengertian mencari pembenaran dan pengukuhan tentang apa yang kita persepsikan, seperti mencuri, atau berbohong itu benar asalkan niatnya benar. 

Saya secara pribadi tidak meyakini itu, bagaimana pun mencuri itu motifnya tetap saja mengambil hak orang lain. Apa jadinya jika yang dicuri itu adalah harta Anda. Bangunlah cara pandang yang sesuai agar apa yang dipikirkan dan diperoleh menjadi sarana, agar Anda bisa melakukan apa pun yang Anda kehendaki.


Tidak ada fakta yang lebih membesarkan hati daripada kemampuan mutlak seseorang untuk mengangkat kehidupannya dengan upaya sadar.Hanry David Thoreau